Ketika Ke SoloKesempatan nglayap di antara tembok-tembok keraton Surakarta beberapa hari yang lalu. Kebetulan ada kerjaan di kota Solo maka kesempatan itu saya manfaatkan untuk memanjakan hobi ini. Dengan bekal nekat maka saya pun mencoba menyusuri gang-gang diantara kokohnya tembok benteng (Mbeteng kata orang solo) akhirnya masuk ke gerbang utama keraton. Sejenak tidak kelihatan aktifitas didalam keraton.
Tiba tiba pintu keraton dibuka dan berhamburan keluar rombongan dari berbagai wilayah. Tanpa basa-basi naluri pun langsung mengabadikan beberapa frem. Ada sedikit percakapan yang sempat terekam oleh saya diantara para abdi dalem yang sudah selesai melakukan paseban.
”Kang!!!, kahanan negoro iki kok ra karuan ngene to, Masalah setury ra ono juntrungane, pansus yo mung koyo dagelan thok, masalah sing siji rong rampung wes digeser masalah liyane, teroris lah, makelar kasus lan liyo-liyane”.
”Wes lah dhi, awa e dhewe iki sing penting madhep mantep anggone suwito karo Sinuwun Paku Buwono (PB)XIII Hangabehi”.
Sementara diluar tembok keraton tampak seorang ibu dengan sabar menyandarkan harapanya usahanya sebagai pembeli perhiasan (emas). Semangatnya tetap kokoh sekokoh tembok keraton yang membentang panjang. 
Perjalanan saya lanjutkan ke kampong batik yang belum lama dikukuhkan oleh Bapak Walikota Solo, Joko Widodo. Namun tanpa sengaja saya ketemu dengan rombongan Mas Tukul Arwana bersama kruw Bukan empat mata sedang jalan-jalan di kampong batik. 
Proses pengringan kain batik setelah proses pelorotan malam dengan menggunakan air panas atau mendidih, sebagai penutup motif.


1 comment:
gambaran kearifan tradisional, gambaran kota lama/kota tua. mantab
Post a Comment